2. Dampak yang kita hasilkan melalui lidah atau perkataan kita adalah sesuai dengan kondisi atau keadaan hati kita.

Lepas dari apapun yang menjadi kondisi kita, ketika kita menerima sebuah janji dari Tuhan, belajarlah untuk mempercayai janji-Nya dan pergunakan janji Tuhan itu untuk mulai mengubahkan kondisi yang ada. Mulai ucapkan apa yang kita percayai dari janji Tuhan tersebut. Dengan demikian, Kita sedang terus mempengaruhi alam roh; kehidupan roh yang kita miliki sedang terus dipengaruhi oleh firman-Nya. Sebagai akibatnya, secara lahiriah kita akan mulai mendapati bahwa realita dari kondisi yang ada akan mulai mengalami perubahan menjadi sesuai dengan apa yang kita ucapkan.
Untuk mengetahui sejauh mana dampak yang akan kita hasilkan lewat perkataan kita, perisksalah, apakah ketika kita membuat deklarasi firman, kita merasakan adanya semangat yang muncul dalam diri kita. Karena semangat tersebut adalah pertanda bahwa kita sedang mengalami perubahan dalam alam roh. Yang perlu kita lakukan hanyalah terus menjaga perubahan tersebut, sehingga dengan berjalannya waktu, kita akan melihat perubahan secara jasmani mulai terjadi.
Prinsip kedua ini juga berlaku apabila kita memiliki konflik batin. Yakobus 3:6-11 Di satu sisi, ketika hati kita dipengaruhi oleh kuasa firman, perkataan yang keluar dari mulut kita akan memanifestasikankebaikan. Namun di sisi yang lain, jika hidup kita penuh dengan konflik batin – orang yang hidup dalam konflik batin menunjukkan bahwa keburukan sedang bekerja dalam hidupnya – maka ketika kita mulai berinteraksi dengan orang lain, kitapun akan menularkan konflik batin yang kita miliki. Karena semakin seseorang memperkatakan konflik batinnya, ia justru semakin memperdalam penderitaan dalam hidupnya.
Lidah memiliki kuasa untuk mempengaruhi atmosfir rohani dan jenis pengaruh yang akan ditimbulkan oleh lidah seseorang ditentukan oleh apa yang sedang mempengaruhi hati orang tersebut. Jika hati kita dipengaruhi oleh firman, dampak yang akan dihasilkan pastilah positif. Sebaliknya, jika hati kita dipengaruhi oleh berbagai konflik, dampaknya pasti akan negatif.
Orang yang memiliki konflik batin dengan orang lain dan menceritakan konflik batinnya kepada orang-orang lain, tanpa sadar sedang melepaskan kutukan terhadap orang yang ia gunjingkan tersebut. Meskipun Alkitab memang berkata, “Kutukan yang tanpa alasan tidak akan menghasilkan apapun”, namun secara rohani, orang yang menjadi bahan pembicaraan tersebut akan seperti mengalami tekanan dan intimidasi, yang seakan-akan memaksanya untuk melakukan hal-hal yang tidak ia sukai, sesuai dengan apa yang dibicarakan oleh orang yang menggunjingkannya.
3. Saat Tuhan memberikan firman-Nya kepada kita, Ia menghendaki agar kita dapat memakainya untuk mengubahkan setiap fakta hidup yang kita hadapi.
Alkitab berkata, “Dengan firman-Nya, Tuhan menjadikan apa yang tidak ada menjadi” (Roma 4:17-24). Mungkin dalam fakta hidup, kita masih memiliki banyak kelemahan dan masalah, tetapi ketika Tuhan memberikan firman kepada kita, kitamulai pergunakan firman tersebut untuk mengubahkan fakta yang ada, dengan cara terus mendeklarasikan firman itu.
Secara usia, usia Abraham sudah sangat lanjut dan Sara pun sudah mati haid. Namun ketika Tuhan berfirman kepadanya, “Seperti bintang di langit, demikianlah banyaknya nanti keturunanmu”, maka di tengah fakta yang Abraham alami yang bertolak belakang dengan apa yang Tuhan firmankan, Tuhan menghendaki agar Abraham justru mempergunakan firman tersebut untuk mengubahkan fakta hidupnya.
Demikian pula halnya dengan kita; ketika apa yang Tuhan firmankan seakan-akan bertolak belakang dengan apa yang menjadi fakta hidup kita, Tuhan menghendaki agar kita mempergunakan firman-Nya untuk mempengaruhi alam jasmani ini. Semakin sering kita memperkatakan dan mendeklarasikan firman-Nya, semakin cepat pula perubahan atas fakta hidup kita akan terjadi
sumber : Steven Agustinus

Lepas dari apapun yang menjadi kondisi kita, ketika kita menerima sebuah janji dari Tuhan, belajarlah untuk mempercayai janji-Nya dan pergunakan janji Tuhan itu untuk mulai mengubahkan kondisi yang ada. Mulai ucapkan apa yang kita percayai dari janji Tuhan tersebut. Dengan demikian, Kita sedang terus mempengaruhi alam roh; kehidupan roh yang kita miliki sedang terus dipengaruhi oleh firman-Nya. Sebagai akibatnya, secara lahiriah kita akan mulai mendapati bahwa realita dari kondisi yang ada akan mulai mengalami perubahan menjadi sesuai dengan apa yang kita ucapkan.
Untuk mengetahui sejauh mana dampak yang akan kita hasilkan lewat perkataan kita, perisksalah, apakah ketika kita membuat deklarasi firman, kita merasakan adanya semangat yang muncul dalam diri kita. Karena semangat tersebut adalah pertanda bahwa kita sedang mengalami perubahan dalam alam roh. Yang perlu kita lakukan hanyalah terus menjaga perubahan tersebut, sehingga dengan berjalannya waktu, kita akan melihat perubahan secara jasmani mulai terjadi.
Prinsip kedua ini juga berlaku apabila kita memiliki konflik batin. Yakobus 3:6-11 Di satu sisi, ketika hati kita dipengaruhi oleh kuasa firman, perkataan yang keluar dari mulut kita akan memanifestasikankebaikan. Namun di sisi yang lain, jika hidup kita penuh dengan konflik batin – orang yang hidup dalam konflik batin menunjukkan bahwa keburukan sedang bekerja dalam hidupnya – maka ketika kita mulai berinteraksi dengan orang lain, kitapun akan menularkan konflik batin yang kita miliki. Karena semakin seseorang memperkatakan konflik batinnya, ia justru semakin memperdalam penderitaan dalam hidupnya.
Lidah memiliki kuasa untuk mempengaruhi atmosfir rohani dan jenis pengaruh yang akan ditimbulkan oleh lidah seseorang ditentukan oleh apa yang sedang mempengaruhi hati orang tersebut. Jika hati kita dipengaruhi oleh firman, dampak yang akan dihasilkan pastilah positif. Sebaliknya, jika hati kita dipengaruhi oleh berbagai konflik, dampaknya pasti akan negatif.
Orang yang memiliki konflik batin dengan orang lain dan menceritakan konflik batinnya kepada orang-orang lain, tanpa sadar sedang melepaskan kutukan terhadap orang yang ia gunjingkan tersebut. Meskipun Alkitab memang berkata, “Kutukan yang tanpa alasan tidak akan menghasilkan apapun”, namun secara rohani, orang yang menjadi bahan pembicaraan tersebut akan seperti mengalami tekanan dan intimidasi, yang seakan-akan memaksanya untuk melakukan hal-hal yang tidak ia sukai, sesuai dengan apa yang dibicarakan oleh orang yang menggunjingkannya.
3. Saat Tuhan memberikan firman-Nya kepada kita, Ia menghendaki agar kita dapat memakainya untuk mengubahkan setiap fakta hidup yang kita hadapi.
Alkitab berkata, “Dengan firman-Nya, Tuhan menjadikan apa yang tidak ada menjadi” (Roma 4:17-24). Mungkin dalam fakta hidup, kita masih memiliki banyak kelemahan dan masalah, tetapi ketika Tuhan memberikan firman kepada kita, kitamulai pergunakan firman tersebut untuk mengubahkan fakta yang ada, dengan cara terus mendeklarasikan firman itu.
Secara usia, usia Abraham sudah sangat lanjut dan Sara pun sudah mati haid. Namun ketika Tuhan berfirman kepadanya, “Seperti bintang di langit, demikianlah banyaknya nanti keturunanmu”, maka di tengah fakta yang Abraham alami yang bertolak belakang dengan apa yang Tuhan firmankan, Tuhan menghendaki agar Abraham justru mempergunakan firman tersebut untuk mengubahkan fakta hidupnya.
Demikian pula halnya dengan kita; ketika apa yang Tuhan firmankan seakan-akan bertolak belakang dengan apa yang menjadi fakta hidup kita, Tuhan menghendaki agar kita mempergunakan firman-Nya untuk mempengaruhi alam jasmani ini. Semakin sering kita memperkatakan dan mendeklarasikan firman-Nya, semakin cepat pula perubahan atas fakta hidup kita akan terjadi
sumber : Steven Agustinus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar